Cara Cara Mengetahui Konflik Secara Dini

Mengetahui adanya konflik sendiri mungkin dapat dilakukan dengan memperhatikan hubungan-hubungan yang ada , karena pada umumnya hubungan yang tidak normal merupakan gejala konflik, misalnya ketegangan, kekakuan dan saling fidnah. Tidak semua konflik dapat diketahui gejalanya, untuk mengetahui pemimpin harus aktiv melakukan tindakan.

Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengetahui konflik secara dini, yaitu :

a. Menciptakan komunikasi timbal balik. Komunikasi timbal balik yang dimaksud adalah komunikasi yang dapat mendorong tenaga kerja akfif mengemukakan pendapatnya.

b. Menggunakan jasa pihak ketiga. Pihak yang terlibat biasanya akan terbuka kepada pihak ketiga yang yang netral, untuk mengetahui adanya konflik mungkin perlu bantuan dari pihak yang netral.

c. Mengguanaka jasa pengawas informal. Pengawas informal merupakan orang yang ditempatkan secara rahasia dan bertugas sebagai intel yang melaporkan setiap kejadian. Untuk mencapai keberhasilannya, pengawas informal harus bertindak secara wajar agar tidak diketahui oleh teman-temannya.

Tugas seorang pemimpin adalah memimpin dan menjalankan kegiatannya dengan baik dan pemimpin juga adalah orang yang paling depan bertanggung jawab. Seorang pemimpin harus berani mengambil sikap atau konflik yang terjadi dan harus dapat mengelola konflik yang terjadi dengan tepat.

Bentuk konflik menurut Lewis A. Coser :

a. Konflik Realistis

Konflik realistis ini berasal dari kekecewaan individu atau kelompok terhadap system dan tuntutan-tuntutan yang terdapat dalam hubungan social.

Contoh : aksi mogok para pekerja yang menuntut pembayaran Tunjangan Hari Raya ( THR ), aksi pembakaran oleh rakyat yang menuntut adanya reformasi di Indonesia

b. Konflik Nonrealistis

Konflik Nonrealistis adalah konflik bukan berasal dari tujuan-tujuan persaingan yang antagonis melainkan dari kebutuhan pihak-pihak tertentu untuk ketegangan. Dalam masyarakat tradisional, konflik ini biasa terjadi.

Contoh : permintaan bantuan kepada paranormal, bantuan ilmu hitam untuk mencelakai pesaing bisnis.

Menurut Coser, konflik dapat bersifat fungsional secara positif maupun negatif. Fungsional secara positif apabila konflik tersebut berdampak memperkuat kelompok, sebaliknya bersifat negatif apabila bergerak melawan struktur. Dalam kaitannya dengan sistem nilai yang ada dalam masyarakat, konflik bersifat fungsional negatif apabila menyerang suatu nilai inti. Dalam hal konflik antara suatu kelompok dengan kelompok lain, konflik dapat bersifat fungsional positif karena akan membantu pemantapan batas-batas struktural dan mempertinggi integrasi dalam kelompok.

Ahli lain adalah Piere Van den Berghe (Ritzer, 1980: 63). Berghe mencoba mempertemukan kedua perspektif tersebut. Dia menunjukkan beberapa persamaan analisis antara kedua pendekatan itu, yaitu sama-sama bersifat holistik karena sama-sama melihat masyarakat sebagai terdiri atas bagian-bagian yang saling berkaitan satu dengan yang lain, serta perhatian pokok ditujukan kepada antar hubungan bagian-bagian itu. Teori fungsional struktural maupun teori konflik, keduanya cenderung sama-sama memusatkan perhatian terhadap variabel-variabel mereka sendiri dan mengabaikan variabel yang menjadi perhatian teori lain. Sebagai upaya untuk mempertemukan kedua teori tersebut, Berghe beranggapan bahwa konflik dapat memberikan sumbangan terhadap integrasi dan sebaliknya integrasi dapat pula melahirkan konflik.

Ralf Dahrendorf membedakan konflik menjadi empat macam, yaitu :

a. Konflik antara atau dalam peran social, misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga

b. Konflik antara kelompok-kelompok social.

c. Konflik antara kelompok-kelompok yang terorganisir dan tidak terorganisir.

d. Konflik antara satuan nasional, misalnya antar partai, antarnegara atau antarorganisasi internasional.

Meskipun konflik social merupakan proses disosiatif yang mengarah gak tajam, tetapi konflik itu sebagai suatu proses social yang mempunyai fungsi positif bagi masyarakat. Konflik dikatakn poditif apabila tidak bertentangan dengan pola-pola hubungan social didalam struktur social yang tertentu. Dengan munculnya konflik social diatas, secara tidak langsung akan berpengaruh pada usaha dan wirausahawan.

Ditulis Oleh: Bli Wahyu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar